Pabrik Selulosa Spesial Unit Bisnis Raja Garuda Mas Termasuk Termodern di Dunia

Pabrik Selulosa Spesial Unit Bisnis Raja Garuda Mas Termasuk Termodern di Dunia

          Berdiri pada 1967 dengan nama awal Raja Garuda Mas, Royal Golden Eagle (RGE) merupakan korporasi kelas internasional. Dengan basis bisnis di bidang sumber daya, mereka memiliki beberapa anak perusahaan yang tersebar di berbagai belahan dunia.

          Salah satunya adalah Bracell yang dikenal sebagai salah satu produsen selulosa spesial terkemuka di dunia. Pabriknya di Brasil bahkan termasuk sebagai salah satu yang termodern di muka bumi.

          RGE didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Mereka memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, hingga minyak dan gas.

          Asetnya kini ditaksir mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Karyawannya mencapai 60 ribu orang lebih. Mereka tersebar di Indonesia, Brasil, Tiongkok, Kanada, serta Eropa.

          Di Brasil, sayap RGE diwakili oleh Bracell. Mereka bergabung di bawah kendali grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas tersebut sejak Oktober 2016. Hal itu ditandai penyelesaian proses privatisasi senilai 1,1 miliar dolar AS. Sebelumnya Bracell Limited sudah terdaftar di Stock Exchange of Hong Kong pada 2010.

          Saat ini, Bracell mengelola perkebunan dan fasilitas produksi di lahan seluas 150 ribu hektare. Berkat itu, mereka mampu menjadi pemimpin pasar global dalam industri selulosa spesial. Per tahun, unit bisnis RGE ini sanggup memproduksi dissolving wood pulp sebanyak 485 ribu ton.

          Hasil produksi Bracell sudah mencapai 10 persen dari suplai dissolving wood pulp di seluruh dunia. Pasar menerima dengan tangan terbuka karena produknya dikenal berkualitas.

          Maklum saja, Bracell memproduksinya dengan standar tingkat kemurnian yang tinggi. Level alpha-cellulose content produk buat anak perusahaan Royal Golden Eagle ini mencapai angka 98 persen.

          Fakta itu tersebut tidak mengherankan. Bracell menerapkan teknologi tinggi dan menggunakan fasilitas modern dalam memproduksi selulosa spesial.

Dalam menjalankan produksi, Bracell memiliki fasilitas pengolahan di Bahia, Brasil. Di sana mereka mengolah kayu sedemikian rupa menjadi dissolving wood pulp.

Secara garis besar, proses produksi dimulai dari pengolahan kayu terlebih dulu. Sesudah dipanen dari perkebunan, kayu dipotong-potong menjadi bagian kecil. Bersamaan dengan itu, kayu juga dibersihkan.

Setelah itu, kayu kemudian dimasak dengan proses khusus. Tujuannya untuk memisahkan serat selulosa dari komponen lainnya. Sesudahnya, serat menjalani proses berikutnya. Ada dua tahapan yang mesti dijalani sebelum menjadi dissolving wood pulp. Serat mesti dicuci dan diputihkan terlebih dahulu. Baru sesudah itu dikemas dalam gulungan atau pak tertentu.

Dari serangkaian proses tersebut, kecanggihan pabrik Bracell terlihat. Ada banyak hal yang memperlihatkan kelebihan anak perusahaan grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas tersebut.

Misalnya dari energi yang digunakan. Bracell ternyata mampu mencukupinya sendiri. Mereka menggunakan energi ramah lingkungan, Bio-Fuel untuk menjalankan operasional perusahaan.

Lebih hebat lagi, Bio-Fuel didapat Bracell dari pengolahan limbah produksi. Dalam proses pembuatan dissoliving wood pulp, terdapat zat sisa yang disebut lignin. Oleh unit bisnis Royal Golden Eagle ini, lignin bersama bahan kimia khusus yang diolah menjadi Bio-Fuel.

Berkat itu, Bracell mampu mandiri memenuhi kebutuhan energinya. Bahkan, energi yang dimiliki berlebih. Ini membuka kesempatan bagi mereka untuk memberi manfaat kepada pihak lain. Caranya ialah dengan menyalurkan energi tersebut ke masyarakat. Bracell bisa menjualnya dengan harga bersaing ke publik.

Kecanggihan fasilitas produksi Bracell bisa pula tergambar dari fakta lain. Dalam membuat dissolving wood pulp, ada bahan kimia yang disertakan dalam proses produksi. Namun, anak perusahaan RGE ini berhasil menangkap dan mendaur ulang bahan-bahan tersebut hingga 95 persen dari total yang digunakan. Tidak heran, bahan kimia yang dipakai akhirnya menjadi minim.

RAMAH TERHADAP LINGKUNGAN

RAMAH TERHADAP LINGKUNGAN
Image Source: Inside RGE https://www.inside-rge.com/wp-content/uploads/2016/10/Bracell-Privatisation-Brazil.jpg

          Teknologi tinggi dan fasilitas produksi modern yang dimiliki menjadi Bracell mampu menjalankan operasional yang ramah lingkungan. Hal itu ditandai dengan kemampuan unit bisnis Royal Golden Eagle ini dalam merilis Laporan Keberlanjutan 2016.

          Di sana Bracell memaparkan sejumlah langkah yang dilakukannya dalam melindungi lingkungan. Mereka tercatat mampu mengurangi tingkat emisi yang dihasilkan. Selain itu, Bracell bisa menyelesaikan problem bau yang sempat mengganggu masyarakat di sekitarnya.

          Selain itu, Bracell mampu mencapai target perusahaan terkait tingkat penggunaan air. Bersama dengan itu, mereka juga menurunkan limbah cair padat yang dihasilkan. Itu diikuti dengan pengurangan limbah padat dalam produksi dissolving wood pulp.

          Sementara itu, di area hutan yang dikonservasi oleh Bracell, keanekaragaman hayati kian membaik. Hal itu ditandai dengan temuan spesies bunga baru dan primata langka yang nyaris punah di sana.

          Sedangkan dalam memperoleh bahan baku, Bracell tidak mendapatkan kayu dari hutan alam. Sebaliknya, mereka malah melakukan perlindungan terhadap area dengan nilai konservasi tinggi. Saat ini, anak perusahaan yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas tersebut melindungi perlindungan tersebut di 20 persen lahan yang dimilikinya.

          Sekarang Bracell tercatat memiliki lahan seluas 150 ribu hektare yang digunakan untuk fasilitas produksi dan perkebunan. Dari luas itu, lahan seluas 84 ribu di antara ditanami pohon eukaliptus sebagai sumber bahan baku.

          Keberadaan Brasil yang berada di kawasan tropis menjadi keuntungan tersendiri. Selain lahannya subur dengan sinar matahari sepanjang tahun, Bracell mampu mengelola perkebunannya dengan teknologi terbaru.

          Hal itu mengakibatkan perusahaan memiliki keunggulan khusus dibanding kompetitornya. Lihat saja, biasanya pihak lain perlu waktu hingga 50 tahun untuk menanam eukaliptus sampai bisa dipanen. Standar yang dipakai biasanya panen dilakukan setelah pohon mencapai 35 meter.

          Di Bahia, Bracell mampu menanam eukaliptus setinggi itu hanya dalam waktu enam hingga tujuh tahun. Tak heran, mereka bisa lebih cepat memproduksi selulosa spesial dibanding pihak lain.

          Keberadaan pusat pembibitan yang berkualitas juga menjadi salah satu kunci kesuksesan Bracell. Nursery yang dimilikinya saat ini mencakup lahan seluas 21 hektare. Dari sana mereka mampu memproduksi bibit eukaliptus hingga mencapai 40 juta batang per tahun.

          Setelah dikembangkan, bibit kemudian ditanam di perkebunannya. Bracell menyebarnya bersamaan di antara hutan alam. Ini sengaja dilakukan dengan alasan khusus. Mereka rupanya ingin menjadi ekosistem alami di kawasan tersebut tetap terjaga. Perkebunan eukaliptus akhirnya tidak mengganggu keanekaragaman hayati.

          Bracell berkomitmen kuat dalam menjalankan perlindungan lingkungan tak lepas dari arahan RGE. Perusahaan induknya ini memang dikenal konsisten dalam menjalankan operasional yang ramah terhadap alam.

          Hal itu berawal dari arahan khusus pendiri Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto. Ia mencanangkan filosofi bisnis perusahaan yang dikenal sebagai prinsip kerja 5C.

          Di dalamnya tercakup kewajiban bagi semua pihak di bawah naungan RGE untuk memberi manfaat kepada berbagai pihak. Ia mengharuskan Royal Golden Eagle untuk berguna bagi Community, Country, Climate, Customer, dan Company. Sebagai bagian dari grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas tersebut, Bracell menjalankan prinsip 5C dengan baik.

You might also like