Kejelian Sukanto Tanoto Dalam Memanfaatkan Alam Indonesia

Kejelian Sukanto Tanoto Dalam Memanfaatkan Alam Indonesia

Seandainya banyak pengusaha seperti Sukanto Tanoto, Indonesia akan cepat maju. Sebab, pendiri grup Royal Golden Eagle (RGE) ini begitu jeli dalam memanfaatkan potensi di negeri kita, khususnya kekayaan alamnya.

Sukanto Tanoto adalah chairman Royal Golden Eagle. Perusahaan ini didirikannya pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas.

Seiring waktu, Royal Golden Eagle berkembang pesat. Tangan dingin Sukanto Tanoto berhasil mengubah perusahaannya itu dari usaha kelas lokal menjadi korporasi global.

Menarik untuk melihat kiprah Sukanto Tanoto bersama RGE. Pasalnya, perjalanan bisnisnya memperlihatkan kejeliannya dalam memanfaatkan kekayaan alam Indonesia menjadi produk bernilai tinggi.

Pengamatan yang jeli itu sudah dimulai sejak Sukanto Tanoto berusia muda. Sebelum mendirikan Royal Golden Eagle, ia pernah berkecimpung dalam bisnis general contractor dan supplier sejak era 1960-an.

Bidang itu terus ditekuni oleh pria kelahiran Belawan pada 25 Desember 1949 tersebut hingga rasa gusar mulai mengusik hatinya. Memasuki awal 1970-an, Sukanto Tanoto sempat pergi ke Taiwan. Di sana ia melihat perkembangan industri kayu lapis yang sangat pesat.

Sukanto Tanoto pun sangat heran. Sebab, Taiwan mendapatkan kayu dari impor. Salah satunya dari Indonesia.

Ia juga semakin merasa gusar ketika tahu bahwa harga kayu lapis di Indonesia sangat tinggi. Orang Indonesia harus mengimpor dari Taiwan atau negara produsen kayu lapis lain seperti Jepang untuk mendapatkannya.

Suatu ketika, Sukanto Tanoto tahu bahwa orang-orang di Medan kesulitan untuk mendapatkan kayu lapis. Mereka harus mengimpornya dari Singapura dengan harga tinggi. Kondisi itu akhirnya memantapkan hatinya untuk membuka usaha kayu lapis.

Dasar keputusan Sukanto Tanoto ada dua. Pertama, ia menilai Indonesia memiliki kekayaan alam berupa tanah subur luas yang mudah untuk menumbuhkan pohon. Oleh karena itu, di mata Sukanto Tanoto, Indonesia seharusnya bisa membuat pabrik kayu lapis. “Negara kita kaya kayu. Mengapa harus mengimpor kayu lapis?” ujar Sukanto Tanoto.

Alasan kedua terkait kelangsungan bisnisnya. Pada awal era 1970-an terjadi krisis minyak dunia. Sukanto Tanoto yang mendapatkan kontrak membangan suluran pipa untuk minyak sejatinya mendapat berkah. Penghasilan perusahaannya meningkat. Namun, kondisi itu membuatnya berpikir untuk melakukan proses diversifikasi usaha.

Sukanto Tanoto sadar saat ini bisnis utamanya tergantung kepada satu klien utama di bidang perminyakan. Ia mengkhawatirkan kondisi para karyawannya seandainya klien tersebut lepas. Ini semakin menguatkan tekadnya membangun pabrik katu lapis.

Sukanto Tanoto akhirnya mulai membangun pabrik kayu lapis pada 1972. Kebetulan pemerintah Indonesia mulai melarang ekspor kayu gelondongan. Maka, langkah Sukanto Tanoto dinilai sebagai putusan yang sejalan dengan misi pemerintah untuk memberi nilai tambah hasil alam Indonesia. Akibatnya, dukungan dari pemerintah juga besar. Buktinya, presiden Indonesia saat itu, Soeharto, bersama tujuh orang menterinya mau meresmikan perusahannya pada 1975.

TERUS MELAKUKAN DIVERSIFIKASI USAHA

TERUS MELAKUKAN DIVERSIFIKASI USAHA

Image Source: Sukantotanoto.com

http://www.sukantotanoto.com/wp-content/uploads/2017/03/RGE_AA_Arief_TopNursery-03-768×512.jpg

Sukses dalam merintis industri kayu lapis di Indonesia tidak membuat Sukanto Tanoto berpuas diri. Ia malah semakin tertantang untuk mencari bidang baru sebagai langkah diversifikasi usaha. Belakangan, niat itulah yang akhirnya membuka jalannya untuk mendirikan Royal Golden Eagle.

Semua dimulai dari perjalanan Sukanto Tanoto ke Malaysia pada awal 1970-an. Di sana, ia melihat ada banyak perkebunan kelapa sawit yang dibuat. Ini mendorong Sukanto Tanoto tergerak. Ia lantas mencari tahu tentang industri kelapa sawit di negeri jiran tersebut. Hasilnya adalah niat besar untuk mendirikan pabrik kelapa sawit lengkap berserta perkebunannya di Indonesia.

Sukanto Tanoto menilai langkah tersebut sebagai keputusan bisnis yang jitu. Pasalnya, ia tahu persis kondisi alam di Malaysia dan Indonesia tidak jauh. Tanah di Indonesia tak kalah subur, bahkan lahan yang ada malah lebih luas.

Bukan hanya itu, jumlah penduduk Indonesia jauh lebih banyak dari Malaysia. Hal itu akan membuat peluang pasarnya akan lebih besar di negeri kita.

“Saya melihat Sime Darby, Guthrie, dan perusahaan kelapa sawit asal Britania Raya lain beroperasi dengan baik. Tapi, saya kemudian menyadari bahwa lahan di Indonesia lebih murah, tenaga kerja juga lebih murah, dan pasarnya sepuluh kali lebih besar dari Malaysia. Jadi, mengapa tidak mencoba bisnis kelapa sawit,” ujar Sukanto Tanoto.

Namun, langkah Sukanto Tanoto mengundang tanda tanya bagi banyak pihak di Indonesia. Mereka ragu putusannya tepat. Semua tahu untuk mengembangkan bisnis kelapa sawit butuh kesabaran. Pelakunya harus mau membuka lahan perkebunan dulu. Setelah itu pohon kelapa sawit ditanam dan ditunggu paling cepat tiga tahun untuk dipanen. Barulah pabrik kelapa sawit bisa beroperasi.

Proses itu memerlukan kesabaran tersendiri. Sukanto Tanoto mengistilahkan “napas” yang dimiliki harus panjang. Namun, tekadnya sudah bulat. Pada 1973, ia mulai merintis bisnis kelapa sawitnya. Enam tahun sesudahnya, buah manisnya mulai terasa.

Pada 1979, pemerintah Indonesia mengagas sistem plasma inti untuk mengembangkan kehidupan para transmigran. Royal Golden Eagle akhirnya menjadi pelakunya. Sebagai perusahaan inti, mereka bekerja sama dengan para petani yang menjadi plasmanya.

Hal itu membuat suplai bahan baku kelapa sawit terbilang aman. Akibatnya, Royal Golden Eagle mampu memenuhi kebutuhan hasil olahan kelapa sawit yang semakin besar. Ini pula yang akhirnya semakin mengembangkan grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas tersebut.

TERUS MENAMBAH BIDANG USAHA

TERUS MENAMBAH BIDANG USAHA

Image Source: Sukantotanoto.com

http://www.sukantotanoto.com/wp-content/uploads/2017/03/RGE_APRIL_Aisyah_ActPaper-05-768×431.jpg

Industri kayu lapis dan kelapa sawit yang ditekuni sejatinya telah memperlihatkan kejelian Sukanto Tanoto dalam memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Namun, ia masih merasa ada bidang lain yang semestinya bisa besar di Indonesia. Hal itu adalah industri pulp dan kertas.

Pemicunya adalah inspirasi yang diperoleh Sukanto Tanoto usai bepergian ke Finlandia. Ia sadar bahwa negeri itu merupakan salah satu pemain besar dalam industri pulp dan kertas di dunia. Namun, ia tercengang karena perlu kesabaran besar dalam mengembangkan.

Ternyata perlu waktu sekitar 60 tahun bagi Finlandia untuk menumbuhkan pohon ekaliptus yang menjadi bahan baku pulp dan kertas. Baru setelah itu, mereka bisa memanen pohon yang ditanamnya. Tapi, anehnya, industri pulp dan kertas Finlandia tetap bisa kompetitif.

Sukanto Tanoto lantas berhitung. Ia sadar alam Indonesia memiliki keunggulan kompetitif tersendiri. Negeri kita berada di kawasan tropis. Sinar matahari terus ada sepanjang tahun. Ditunjang dengan lahan yang subur, maka mudah sekali untuk menumbuhkan pohon sebagai bahan baku pulp dan kertas. Sebagai contoh, hanya perlu waktu lima tahun agar pohon akasia yang ditanam siap dipanen menjadi bahan baku.

Akhirnya Sukanto Tanoto segera merealisasikan niatnya. Pada 1993, ia mulai merintis perkebunan yang menjadi bahan baku pulp dan kertas. Pada saat yang bersamaan, ia juga membangun pabriknya. Dua tahun berselang, Sukanto Tanoto mulai memproduksi pulp pertamanya. Lalu pada 1998, produk kertasnya menyusul dilahirkan.

Sekarang buahnya terbukti. Sama seperti di industri kelapa sawit, Royal Golden Eagle merupakan pemain penting dalam industri pulp dan kertas. Hal itu tidak mungkin terjadi jika Sukanto Tanoto tidak jeli memanfaatkan alam Indonesia menjadi keunggulan kompetitif industri.

You might also like